KERAJAAN
DEMAK
Makalah
Diajukan untuk memenuhi tugas
kelompok pada matakuliah
Sejarah Indonesia Madya
Disusun oleh:
Nurits Nadia
Khafiyah 1112015000022
Mutia Anggraeni 1112015000023
Ajeng Putri
Kartini 1112015000034
Fakhrur Al Izza 1112015000050
Prisda Ayutt
Mutiami 1112015000086
Roikhatul
Zannah 1112015000094
Feby Famela
Iffah 1112015000100
Sri Setiyowati 1112015000102
Muhamadagus 1112015000118
Dosen Pengampu:
Dr. Muhamad
Arif, M.Pd
Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama dan terbesar
di pantai utara Jawa
("Pasisir").
Menurut tradisi Jawa, Demak sebelumnya merupakan kadipaten
dari kerajaan Majapahit,
kemudian muncul sebagai kekuatan baru mewarisi legitimasi dari kebesaran
Majapahit.
Kerajaan ini tercatat menjadi
pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa
dan Indonesia
pada umumnya. Walau tidak berumur panjang dan segera mengalami kemunduran
karena terjadi perebutan kekuasaan di antara kerabat kerajaan. Pada tahun 1568, kekuasaan Demak
beralih ke Kerajaan Pajang yang didirikan oleh Jaka Tingkir.
Salah satu peninggalan bersejarah Kerajaan Demak ialah Mesjid Agung Demak, yang menurut tradisi
didirikan oleh Walisongo.
Lokasi keraton Demak, yang pada
masa itu berada di tepi laut, berada di kampung Bintara (dibaca
"Bintoro" dalam bahasa Jawa), saat ini telah menjadi kota Demak
di Jawa Tengah.
Sebutan kerajaan pada periode ketika beribukota di sana dikenal sebagai Demak Bintara. Pada masa raja ke-4
ibukota dipindahkan ke Prawata (dibaca "Prawoto") dan untuk periode
ini kerajaan disebut Demak Prawata.
1.2
Rumusan Masalah
Mengungkap dan membahas Kerajaan Demak.
1.3 Tujuan Penulisan
1.
Untuk memenuhi tugas
mata kuliah Sejarah
Indonesia Madya .
2.
Menjelaskan dan
memaparkan mengenai Kerajaan
Demak.
1.4 Manfaat Penulisan
Agar menjadi bahan
acuan bagi mahasiswa ketika akan menulis karya ilmiah yang benar dan
sistematis, memberi pengetahuan kepada setiap pembaca mengenai Kerajaan Demak.
1.5 Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah
ini dengan browsing dan mengutip dari buku mengenai materi yang akan dibahas.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Awal Kerajaan Demak
Menjelang akhir abad ke-15,
seiring dengan kemuduran Majapahit, secara praktis beberapa wilayah kekuasaannya mulai
memisahkan diri. Bahkan wilayah-wilayah yang tersebar atas kadipaten-kadipaten
saling serang, saling mengklaim sebagai pewaris tahta Majapahit.
Sementara Demak yang berada di
wilayah utara pantai Jawa muncul sebagai kawasan yang mandiri. Dalam tradisi
Jawa digambarkan bahwa Demak merupakan penganti langsung dari Majapahit,
sementara Raja Demak (Raden Patah) dianggap sebagai putra Majapahit terakhir.
Kerajaan Demak didirikan oleh kemungkinan besar seorang Tionghoa Muslim bernama
Cek Ko-po. Kemungkinan besar puteranya adalah orang yang
oleh Tomé Pires
dalam Suma Oriental-nya
dijuluki "Pate Rodim", mungkin dimaksudkan
"Badruddin" atau "Kamaruddin" dan meninggal sekitar tahun 1504. Putera atau adik
Rodim, yang bernama Trenggana bertahta dari tahun 1505 sampai 1518, kemudian dari tahun 1521 sampai 1546. Di antara kedua masa
ini yang bertahta adalah iparnya, Raja Yunus (Pati Unus)
dari Jepara.
Sementara pada masa Trenggana sekitar tahun 1527 ekspansi militer
Kerajaan Demak berhasil menundukan Majapahit.
Kerajaan Islam yang pertama di Jawa adalah Demak, dan
berdiri pada tahun 1478 M. Hal ini didasarkan atas jatuhnya kerajaan Majapahit
yang diberi tanda Candra Sengkala: Sirna hilang Kertaning Bumi, yang berarti
tahun saka 1400 atau 1478 M. Kerajaan Demak itu didirikan oleh Raden Fatah. Beliau
selalu memajukan agama islam di bantu oleh para wali dan saudagar Islam.
Raden Fatah nama kecilnya adalah Pangeran Jim bun. Menurut sejarah, dia adalah putera raja Majapahit
yang terakhir dari garwa Ampean, dan Raden Fatah dilahirkan di Palembang.
Karena Arya Damar sudah masuk Islam maka Raden Fatah dididik secara Islam,
sehingga jadi pemuda yang taat beragama Islam.
Setelah usia 20 tahun Raden Fatah dikirim ke Jawa
untuk memperdalam ilmu agama di bawa asuhan Raden Rahmat dan akhirnya kawin
dengan cucu beliau. Dan akhirnya Raden Fatah menetap di Demak (Bintoro).
Pada kira-kira tahun 1475 M, Raden Fatah mulai
melaksanakan perintah gurunya dengan jalan membuka madrasah atau pondok
pesantren di daerah tersebut. Rupanya tugas yang diberikan kepada Raden Fatah
dijalankan dengan sebaik-baiknya. Lama kelamaan Desa Glagahwangi ramai
dikunjungi orang-orang. Tidak hanya menjadi pusat ilmu pengetahuan dan
agama, tetapi kemudian menjadi pusat peradagangan bahkan akhirnya menjadi pusat
kerajaan Islam pertama di Jawa. Desa Glagahwangi, dalam perkemabangannya
kemudian karena ramainya akhirnya menjadi ibukota negara dengan nama Bintoro
Demak.
2.2 Letak Kerajaan Demak
Secara geografis Kerajaan Demak terletak di daerah
Jawa Tengah, tetapi pada awal kemunculannya kerajaan Demak mendapat bantuan
dari para Bupati daerah pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur yang telah menganut
agama Islam.
Pada sebelumnya, daerah Demak bernama Bintoro yang
merupakan daerah vasal atau bawahan Kerajaan Majapahit. Kekuasaan
pemerintahannya diberikan kepada Raden Fatah (dari kerajaan Majapahit) yang
ibunya menganut agama Islam dan berasal dari Jeumpa (Daerah Pasai).
Letak Demak sangat menguntungkan, baik untuk
perdagangan maupun pertanian. Pada zaman dahulu wilayah Demak terletak di tepi
selat di antara Pegunungan Muria dan Jawa. Sebelumnya selat itu rupanya agak
lebar dan dapat dilayari dengan baik sehingga kapal dagang dari Semarang dapat
mengambil jalan pintas untuyk berlayar ke Rembang. Tetapi sudah sejak abad XVII
jalan pintas itu tidak dapat dilayari setiap saat.
Pada abad XVI agaknya Deamak telah menjadi gudang padi
dari daerah pertanian di tepian selat tersebut. Konon, kota Juwana merupakan
pusat seperti itu bagi daerah tersebut pada sekitar 1500. Tetapi pada sekitar
1513 Juwana dihancurkan dan dikosongkan oleh Gusti Patih, panglima besar
kerajaan Majapahit yang bukan Islam. Ini kiranya merupakan peralawanan terakhir
kerajaan yang sudah tua itu. Setelah jatuhnya Juwana, Demak menjadi penguasa
tunggal di sebelah selatan Pegunungan Muria.
Yang menjadi penghubung antara Demak dan Daerah
pedalaman di Jawa Tengah ialah Sungai Serang (dikenal juga dengan nama-nama
lain), yang sekarang bermuara di Laut Jawa antara Demak dan Jepara.
Hasil panen sawah di daerah Demak
rupanya pada zaman dahulu pun sudah baik. Kesempatan untuk menyelenggarakan
pengaliran cukup. Lagi pula, persediaan padi untuk kebutuhan sendiri dan untuk
pergadangan masih dapat ditambah oleh para penguasa di Demak tanpa banyak
susah, apabila mereka menguasai jalan penghubung di pedalaman Pegging dan
Pajang.
2.3 Kehidupan Politik
Ketika kerajaan Majapahit mulai mundur, banyak bupati
yang ada di daerah pantai utara Pulau Jawa melepaskan diri. Bupati-bupati itu
membentuk suatu persekutuan di bawah pimpinan Demak. Setelah kerajaan
Majapahit runtuh, berdirilah kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam pertama
dipulau Jawa. Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Demak adalah sebagai
berikut :
1. Raden Fatah
Pada awal abad ke 14, Kaisar Yan Lu dari Dinasti
Ming di China mengirimkan seorang putri kepada raja Brawijaya V di Majapahit,
sebagai tanda persahabatan kedua negara. Putri yang cantik jelita dan pintar
ini segera mendapat tempat istimewa di hati raja. Raja brawijaya sangat tunduk
kepada semua kemauan sang putri jelita, hingga membawa banyak pertentangan
dalam istana majapahit. Pasalnya sang putri telah berakidah tauhid. Saat itu,
Brawijaya sudah memiliki permaisuri yang berasal dari Champa (sekarang bernama
kamboja), masih kerabat Raja Champa.
Sang permaisuri memiliki ketidak cocokan dengan
putri pemberian Kaisar yan Lu. Akhirnya dengan berat hati raja menyingkirkan
putri cantik ini dari istana. Dalam keadaan mengandung, sang putri dihibahkan
kepada adipati Pelembang, Arya Damar. Nah di sanalah Raden Patah dilahirkan
dari rahim sang putri cina.
Nama kecil raden patah adalah pangeran Jimbun. Pada
masa mudanya raden patah memperoleh pendidikan yang berlatar belakang
kebangsawanan dan politik. 20 tahun lamanya ia hidup di istana Adipati
Palembang. Sesudah dewasa ia kembali ke majapahit.
Raden Patah memiliki adik laki-laki seibu, tapi
beda ayah. Saat memasuki usia belasan tahun, raden patah bersama adiknya
berlayar ke Jawa untuk belajar di Ampel Denta. Mereka mendarat di pelabuhan
Tuban pada tahun 1419 M.
Patah sempat tinggal beberapa lama di ampel Denta,
bersama para saudagar muslim ketika itu. Di sana pula ia mendapat dukungan dari
utusan Kaisar Cina, yaitu laksamana Cheng Ho yang juga dikenal sebagai Dampo
Awang atau Sam Poo Tai-jin, seorang panglima muslim.
Raden patah mendalami agama islam bersama
pemuda-pemuda lainnya, seperti raden Paku (Sunan Giri), Makhdum ibrahim (Sunan
Bonang), dan Raden Kosim (Sunan Drajat). Setelah dianggap lulus, raden patah
dipercaya menjadi ulama dan membuat permukiman di Bintara. Ia diiringi
oleh Sultan Palembang, Arya Dilah 200 tentaranya. Raden patah memusatkan
kegiatannya di Bintara, karena daerah tersebut direncanakan oleh Walisanga
sebagai pusat kerajaan Islam di Jawa.
Menurut cerita rakyat Jawa Timur, Raden Fatah
termasuk keturunan raja terakhir dari kerajaan Majapahit, yaitu Raja Brawijaya V.
Setelah dewasa, Raden Fatah diangkat menjadi bupati di Bintaro (Demak) dengan
Gelas Sultan Alam Akbar al-Fatah.
Raden Fatah memerintah Demak dari tahun 1500-1518
M. Di bawah pemerintahannya, kerajaan Demak berkembang dengan pesat, karena
memiliki daerah pertanian yang luas sebagai penghasil bahan makanan, terutama
beras. Oleh karena itu, kerajaan Demak menjadi kerajaan agraris-maritim. Barang
dagangan yang diekspor kerajaan Demak antara lain beras, lilin dan madu.
Barang-barang itu diekspor ke Malaka, Maluku dan Samudera Pasai.
Pada masa pemerintahan Raden Fatah, wilayah
kekuasaan kerajaan Demak meliputi daerah Jepara,Tuban, Sedayu, Palembang, Jambi
dan beberapa daerah di kalimantan. Disampin itu, kerajaan Demak juga memiliki
pelabuhan –pelabuhan penting seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Jaratan, dan Gresik
yang berkemabng menjadi pelabuhan transito (penghubung).
Kerajaan Demak berkembang sebagai pusat perdagangan
dan pusat penyebaran agama islam. Jasa para Wali dalam penyebaran agama islam
sangatlah besar, baik di pulau Jawa maupun di daerah-daerah di luar pulau Jawa,
seperti di daerah Maluku yang dilakukan oleh Sunan Giri, di daerah Kalimantan
Timur yang dilakukan oleh seorang penghulu dari Demak yang bernama Tunggang
Parangan.
Pada masa pemerintahan Raden Fatah, dibangun masjid
Demak yang proses pembangunan masjid itu di bantu oleh para wali atau sunan. Raden Fatah tampil sebagai raja
pertama Kerajaan Demak. Ia menaklukan kerajaan Majapahit dan memindahkan
seluruh benda upacara dan pusaka kerajaan Majapahit ke Demak. Tujuannya, agara
lambang kerajaan Majapahit tercermin dalam kerajaan Demak.
Ketika kerajaan Malaka jatuh ketangan Portugis
tahun 1511 M, hubungan Demak dan Malaka terputus. Kerajaan Demak merasa
dirugikan oleh Portugis dalam aktivitas perdagangan. Oleh karena itu, tahun
1513 M Raden Fatah memerintahkan Adipati Unu memimpin pasukan Demak untuk
menyerang Portugis di Malaka. Serangan itu belum berhasil, karena pasukan
Portugis jauh lebih kuat dan persenjataannya lengkap. Atas usahnya itu Adipati
Unus mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor.
2. Adipati Unus
Setelah Raden Fatah wafat, tahta kerajaan Demak
dipegang oleh Adipati Unus. Ia memerintah Demak dari tahun 1518-1521 M. Masa
pemerintahan Adipati Unus tidak begitu lama, karena ia meninggal dalam usia
yang masih muda dan tidak meninggalkan seorang putera mahkota. Walaupun usia
pemerintahannya tidak begitu pasukan Demak menyerang Portugis di Malaka.
Setelah Adipati Unus meninggal, tahta kerajaan Demak dipegang oleh saudaranya
yang bergelar Sultan Trenggana.
Sejak tahun 1509 Adipati Unus anak dari Raden Patah,
telah bersiap untuk menyerang Malaka. Namun pada tahun 1511 telah didahului
Portugis. Tapi adipati unus tidak mengurungkan niatnya, pada tahun 1512 Demak
mengirimkan armada perangnya menuju Malaka. Namun setalah armada sampai
dipantai Malaka, armada pangeran sabrang lor dihujani meriam oleh pasukan
portugis yang dibantu oleh menantu sultan Mahmud, yaitu sultan Abdullah raja
dari Kampar. Serangan kedua dilakukan pada tahun 1521 oleh pangeran sabrang lor
atau Adipati Unus. Tetapi kembali gagal, padahal kapal telah direnofasi dan
menyesuaikan medan.
Selain itu, dia berhasil mengadakan perluasan wilayah
kerajaan. Dia menghilangkan kerajaan Majapahit yang beragama Hindu, yang pada
saat itu sebagian wilayahnya menjalin kerja sama dengan orang-orang Portugis.
Adipati Unus (Patih Yunus) wafat pada tahun 938 H/1521 M.
3. Sultan Trenggana
Sulltan Trenggana memerintah Demak dari tahun
1521-1546 M. Dibawah pemerintahannya, kerajaan Demak mencapai masa kejayaan.
Sultan Trenggana berusaha memperluas daerah kekuasaannya hingga ke daerah Jawa
Barat. Pada tahun 1522 M kerajaan Demak mengirim pasukannya ke Jawa Barat di
bawah pimpinan Fatahillah. Daerah-daerah yang berhasil di kuasainya antara lain
Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Penguasaan terhadap daerah ini bertujuan
untuk menggagalkan hubungan antara Portugis dan kerajaan Padjajaran. Armada
Portugis dapat dihancurkan oleh armada Demak pimpinan Fatahillah. Dengan
kemenangan itu, fathillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta
(berarti kemenangan penuh). Peristiwa yang terjadi pada tanggal 22 juni 1527 M
itu kemudian di peringati sebagai hari jadi kota Jakarta.
Dalam usaha memperluas kekuasaannya ke Jawa Timur,
Sultan Trenggana memimpin sendiri pasukannya. Satu persatu daerah Jawa Timur
berhasil di kuasai, seperti Maduin, Gresik, Tuban dan Malang. Akan tetapi
ketika menyerang Pasuruan 953 H/1546 M Sultan Trenggana gugur. Usahanya untuk
memasukan kota pelabuhan yang kafir itu ke wilayahnya dengan kekerasan ternyata
gagal. Dengan demikian, maka Sultan Trenggana berkuasa selama 42 tahun.
Di masa jayanya, Sultan Trenggana
berkunjung kepada Sunan Gunung Jati. Dari Sunan gunung jati, Trenggana
memperoleh gelar Sultan Ahmad Abdul Arifin. Gelar Islam seperti itu sebelumnya
telah diberikan kepada raden patah, yaitu setelah ia berhasil mengalahkan
Majapahit.
PERANG SAUDARA DI DEMAK
Perang saudara ini berawal dari meninggalnya anak
sulung Raden Patah yaitu Adipati Unus yang manjadi putra mahkota. Akhirnya
terjadi perebutan kekuasaan antara anak-anak dari Raden Patah. Persaingan ketat
anatara Sultan Trenggana dan Pangeran Seda Lepen (Kikin). Akhirnya kerajaan
Demak mampu dipimpin oleh Trenggana dengan menyuruh anaknya yaitu Prawoto untuk
membunuh pangeran Seda Lepen. Dan akhirnya sultan Trenggana manjadi sultan
kedua di Demak. Pada masa kekuasaan Sultan Trenggana (1521-1546),
Demak mencapai puncak keemasan dengan luasnya daerah kekuasaan dari Jawa Barat
sampai Jawa timur. Hasil dari pemerintahannya adalah Demak memiliki
benteng bawahan di barat yaitu di Cirebon. Tapi kesultanan Cirebon akhirnya
tidak tunduk setelah Demak berubah menjadi kesultanan pajang.
Sultan Trenggana meninggalkan dua orang putra dan
empat putri. Anak pertama perempuan dan menikah dengan Pangeran Langgar, anak
kedua laki-laki, yaitu sunan prawoto, anak yang ketiga perempuan, menikah
dengan pangeran kalinyamat, anak yang keempat perempuan, menikah dengan
pangeran dari Cirebon, anak yang kelima perempuan, menikah dengan Jaka Tingkir,
dan anak yang terakhir adalah Pangeran Timur. Arya Penangsang Jipang telah
dihasut oleh Sunan Kudus untuk membalas kematian dari ayahnya, Raden Kikin atau
Pangeran Sedo Lepen pada saat perebutan kekuasaan. Dengan membunuh Sunan
Prawoto, Arya Penangsang bisa menguasai Demak dan bisa menjadi raja Demak yang
berdaulat penuh. Pada tahun 1546 setelah wafatnya Sultan Trenggana secara
mendadak, anaknya yaitu Sunan Prawoto naik tahta dan menjadi raja ke-3 di Demak.
Mendengar hal tersebut Arya Penangsang langsung menggerakan pasukannya untuk
menyerang Demak. Pada masa itu posisi Demak sedang kosong armada.
Armadanya sedang dikirim ke Indonesia timur. Maka dengan mudahnya Arya
Penangsang membumi hanguskan Demak. Yang tersisa hanyalah masjid
Demak dan Klenteng. Dalam pertempuran ini tentara Demak terdesak
dan mengungsi ke Semarang, tetapi masih bisa dikejar. Sunan prawoto gugur dalam
pertempuran ini. Dengan gugurnya Sunan Prawoto, belum menyelesaikan masalah
keluarga ini. Masih ada seseorang lagi yang kelak akan membawa Demak pindah ke
Pajang, Jaka Tingkir. Jaka Tingir adalah anak dari Ki Ageng Pengging bupati di
wilayah Majapahit di daerah Surakarta.
Dalam babad tanah jawi, Arya
Penangsang berhasil membunuh Sunan Prawoto dan Pangeran Kalinyamat, sehingga
tersisa Jaka Tingkir. Dengan kematian kalinyamat, maka janda dari pangeran
kalinyamat membuat saembara. Siapa saja yang bisa membunuh Arya Penangsang,
maka dia akan mendapatkan aku dan harta bendaku. Begitulah sekiranya tutur kata
dari Nyi Ratu Kalinyamat. Mendengar hal tersebut Jaka Tingkir menyanggupinya,
karena beliau juga adik ipar dari Pangeran Kalinyamat dan Sunan Prawoto. Jaka
Tingkir dibantu oleh Ki Ageng Panjawi dan Ki Ageng Pamanahan. Akhirnya Arya
Panangsang dapat ditumbangkan dan sebagai hadiahnya Ki Ageng Panjawi
mendapatkan hadiah tanah pati, dan Ki Ageng Pamanahan mendapat tanah mataram.
2.4 Kehidupan
Ekonomi, Sosial, dan Budaya
Kehidupan Ekonomi kerajaan Demak, karena Demak
terletak di wilayah yang sangat strategis yaitu di jalur perdagangan nusantara
memungkinkan Demak berkembang menjadi kerajaan maritim. Dalam kegiatan
perdagangannya, Demak berperan sebagai penghubung daerah penghasil rempah-rempah
di wilayah Indonesia bagian timur dan
penghasil rempah-rempah di Indonesia bagian barat. Dengan demikian perdagangan
di Demak semakin berkembang. Dan hal in juga didukung oleh pengusaan Demak
terhadap pelabuhan-pelabuhan di daerah pesisir pantai pulau Jawa. Sebagai
kerajaan islam yang memiliki wilayah di pedalaman, maka Demak juga
memperhatikan masalah pertanian, sehingga beras merupakan salah satu hasil
pertanian yang menjadi komoditi dagang. Dengan demikian, kegiatan
perdagangannya di tunjang oleh hasil pertanian, yang mengakibatkan Demak
memperoleh keuntungan dibidang ekonomi.
Kehidupan
sosial dan budaya masyarakat Demak lebih
berdasarkan pada agama dan budaya islam, karena pada dasarnya Demak adalah
pusat penyebaran Islam pertama di pulau Jawa. Sebagai pusat penyebaran Islam,
Demak menjadi tempat berkumpulnya para wali seperti Sunan Kalijaga, Sunan
Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Bonang. Para wali tersebut memiliki peranan yang
penting pada masa perkembangan kerajaan Demak, seperti yang dilakukan oleh
Sunan Kudus yang memberi nasihat kepada Raden Patah untuk membuat siasat[1][1][1] menghancurkan
kekuatan potugis dan membuat pertahanan yang kuat di Indonesia. Dengan demikian
terjalin hubungan yang erat antara raja/ bangsawan, para wali/ulama dengan
rakyat. Hubungan yang erat tersebut, tercipta melalui pembinaan masyarakat yang
diselenggarakan di Masjid maupun di Pondok Pesantren, sehingga tercipta
kebersamaan atau Ukhuwah Islamiah
( Persaudaraan di antara orang- orang Islam ).
Demikian
pula di bidang budaya, banyak hal yang menarik yang merupaka peninggalan dari
kerajaan Demak.Salah satunya adalah Masjid Demak, dimana salah satu tiang
utamanya terbuat dari pecahan- pecahan kayu yang disebut dengan soko Tatal.
Masjid Demak dibangun atas pimpinan Sunan Kalijaga. Di serambi depan Majid (
pendopo ) itulah Sunan Kalijaga menciptakan dasar- dasar perayaan Sekaten
(Maulud Nabi Muhammad SAW) yang sampai sekarang masih berlangsung di Yogyakarta
dan Cirebon. Hal tersebut menunjukan adanya akulturasi kebudayaan Hindu dengan
kebudayaan Islam.
Setelah
Demak berkuasa kurang lebih setengah abad, ada beberapa hasil peradaban Demak
yang sampai saat ini masih dapat dirasakan.
1.
Sultan Demak, Senopati Jimbun pernah menyusun suatu himpunan undang-undang
dan peraturan di bidang pelaksanaan hukum. Namanya : Salokantara, sebagai kitab
hukum, maka di dalamnya antara lain menerangkan tentang pemimpin keagamaan yang
pernah menjadi hakim. Mereka disebut dharmahyaksa dan kertopapatti.
2. Gelar pengulu ( kepala ), juga
sudah dipakai disana, yang sudah dipakai Imam di Masjid Demak. Hal in juga
terkait dengan orang yang terpenting disana, yaitu nama Sunan Kalijaga. Kata
Kali berasal dari bahasa Arab Qadli, walaupun hal itu juga dikaitkan dengan
nama sebuah sungai kecil, Kalijaga di Cirebon. Ternyata istilah Qadli, pada
masa-masa selanjutnya dipakai oleh imam-imam masjid.
3. Bertambahnya bangunan-bangunan
militer di Demak dan ibukota lainnya di Jawa pada abad XVI.
4. Peranan penting Masjid Demak
sebagai pusat peribadatan Kerajaan Islam pertama di Jawa. Dengan Masjid, umat
Islam di Jawa daapt mengadakan hubungan dengan pusat-pusat Islam Internasional
di luar negeri ( di Tanah Suci, maka dengan kekhalifahan Ustmaniyah di Turki )
5. Munculnya kesenian, seperti
wayang orang, wayang topeng, gamelan, tembang macapat, pembuatan keris, dan
hikayat-hikayat Jawa yang dipandang sebagai penemuan para wali yang sezaman
dengan Kerajaan Demak.
6. Perkembangan sastra Jawa yang
terpusat di bandar-bandar pantai utara dan pantai timur Jawa yang mungkin
sebelumnya tidak di islami, maupun pada masa-masa selanjutnaya “diislamkan”.
Kemajuan Kerajaan Demak dalam berbagai bidang tidak bisa dilepaskan dari
peran serta Islam dalam menyusun dan membentuk fondasi Kemasyarakatan Demak
yang lebih Unggul, disamping itu peran serta para pemimpin dan para Wali juga
turut membantu kejayaan Kerajaan Demak.
2.5 Masa Keemasan
dan Keruntuhan Kerajaan Demak
Masa keemasan
Pada awal abad ke-16, Kerajaan
Demak telah menjadi kerajaan yang kuat di Pulau Jawa, tidak satu pun kerajaan
lain di Jawa yang mampu menandingi usaha kerajaan ini dalam memperluas
kekuasaannya dengan menundukan beberapa kawasan pelabuhan dan pedalaman di nusantara.
Demak di bawah Pati Unus
adalah Demak yang berwawasan nusantara. Visi besarnya adalah menjadikan Demak sebagai
kerajaan maritim yang besar. Pada masa kepemimpinannya, Demak merasa terancam
dengan pendudukan Portugis di Malaka. Kemudian beberapa kali ia mengirimkan armada lautnya
untuk menyerang Portugis di Malaka.
Di bawah Trenggana
Trenggana
berjasa atas penyebaran Islam di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di bawahnya, Demak
mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya seperti merebut Sunda Kelapa
dari Pajajaran
serta menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di sana (1527), Tuban (1527),
Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527), Malang (1545), dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung
timur pulau Jawa (1527, 1546). Trenggana meninggal pada tahun 1546 dalam sebuah
pertempuran menaklukkan Pasuruan, dan kemudian digantikan oleh Sunan Prawoto.
Salah seorang panglima perang Demak waktu itu adalah Fatahillah,
pemuda asal Pasai (Sumatera),
yang juga menjadi menantu raja Trenggana. Sementara Maulana Hasanuddin puteraSunan Gunung Jati
diperintah oleh Trenggana untuk menundukkan Banten Girang. Kemudian hari keturunan Maulana Hasanudin
menjadikan Banten sebagai kerajaan mandiri. Sedangkan Sunan Kudus
merupakan imam di Masjid Demak juga pemimpin utama dalam penaklukan Majapahit
sebelum pindah ke Kudus.
Kemunduran
Setelah wafatnya Sultan Trenggana menimbulkan
kekacauan politik yang hebat di keraton Demak. Negeri-negeri bagian (kadipaten)
berusaha melepaskan diri dan tidak mengakui lagi kekuasaan Demak. Di Demak sendiri
timbul pertentangan di antara para waris yang saling berebut tahta. Orang yang
seharusnya menggantikan kedudukan Sultan Trengggono adalah pengeran Sekar Seda
Ing Lepen.
Namun, ia dibunuh oleh Sunan Prawoto yang berharap
dapat mewarisi tahta kerajaan. Adipati Jipang yang beranama Arya Penangsang,
anak laki-laki Pangeran Sekar Seda Ing Lepen, tidak tinggal diam karena ia
merasa lebih berhak mewarisi tahta Demak. Sunan Prawoto dengan beberapa
pendukungnya berhasil dibunuh dan Arya Penangsang berhasil naik tahta. Akan
tetapi, Arya Penangsang tidak berkuasa lama karena ia kemudian di kalahkan oleh
Jaka Tingkir yang di bantu oleh Kiyai Gede Pamanahan dan putranya Sutawijaya, serta
KI Penjawi.
Jaka tingkir naik tahta dan penobatannya dilakukan
oleh Sunan Giri. Setelah menjadi raja, ia bergelar Sultan Handiwijaya serta
memindahkan pusat pemerintahannya dari Demak ke Pajang pada tahun 1568.
Sultan Handiwijaya sangat menghormati orang-orang yang
telah berjasa. Terutama kepada orang-orang yang dahulu membantu pertempuran
melawan Arya Penangsang. Kyai Ageng Pemanahan mendapatkan tanah Mataram dan
Kyai Panjawi diberi tanah di Pati. Keduanya diangkat menjadibupati di
daerah-daerah tersebut.
Sutawijaya, putra Kyai Ageng Pemanahan diangkat
menjadi putra angkat karena jasanya dalam menaklukan Arya Penangsang. Ia pandai
dalam bidang keprajuritan. Setelah Kyai Ageng Pemanahan wafat pada tahun 1575,
Sutawijaya diangkat menjadi penggatinya.
Pada tahun 1582 Sultan Hadiwijaya wafat. Putranya yang
bernama Pangeran Benawa diangkat menjadi penggantinya. Timbul pemberontakan
yang dilakukan oleh Arya Panggiri, putra Sunan Prawoto, ia merasa mempunyai hak
atasa tahta Pajang. Pemberontakan itu dapat digagalkan oleh Pangeran Benawan
dengan bantuan Sutawijaya.
Pengeran Benawan menyadari bahwa
dirinya lemah, tidak mamapu mengendalikan pemerintahan, apalagi menghadapi
musuh-musuh dan bupati-bupati yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Pajang
kepada saudara angkatnya, Sutawijaya pada tahun 1586. Pada waktu itu Sutawijaya
telah menjabat bupati Mataram, sehingga pusat kerajaan Pajang dipindahkan ke
Mataram.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah, putra dari
Raja Brawijaya V (Bhre Kertabumi) dengan seorang putri Campa sekitar tahun 1500
M. Setelah berhasil mengalahkan Majapahit dan memindahkan seluruh perangkat
kerajaan ke Demak. Kerajaan Demak terletak di daerah Bintoro atau Gelagahwangi
yang sebelumnya merupakan daerah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit.
Kerajaan Demak merupakan Kerajaan Islam Pertama di tanah Jawa dan berkuasa
selama hampir setengah abad sebelum runtuh dan berganti nama menjadi pajang.
Kerajaan Demak Mencapai kejayaan pada masa sultan
trenggono, kejayaan ini terlihat dari kemajuan dibidang ekonomi, sosial,
politik, dan kebudayaan. Dibidang ekonomi Demak merupakan negara yang menjadi
daerah penghasil beras dan penghubung jalur perdagangan nusantara, dibidang
sosial dan politik kerajaan Demak memiliki daerah kekuasaan yang luas dan
menjadi pusat penyebaran Islam, dibidang Kebudayaan kerajaan Demak menjadi
pelopor dari lahirnya karya-karya sastra Jawa yang berakulturasi dengan budaya
Islam.
Kerajaan Demak runtuh akibat perebutan kekuasaan dan
pembalasan dendam diantara para penerus kerajaan tersebut, yaitu antara arya
penangsang, putra Pangeran Sekar Ing Seda Lepen dengan Sunan Prawoto, anak dari
Sultan Trenggono.
Sebuah pelajaran dari sejarah bahwa perebutan kekuasaan dan
perpecahan dari dalam akan membahayakan kesatuan dan persatuan. Bangsa Indonesia harus belajar
dari sejarah Kerajaan Demak jika tidak ingin hancur, bukan tidak mungkin jika
para penguasa negeri ini melakukan
kesalahan yang sama maka nasib negeri ini akan seperti Kerajaan Demak.
3.2 Saran
Keterbatasan
informasi dan ketelitian penulis dalam menyusun makalah ini, menjadi sebab
adanya keurangan-kekurangan yang tidak dapat kami hindari. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran demi penambahan wawasan bagi para penulis
khususnya.
DAFTAR PUSTAKA
Dari
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Adnan Sekecake, Peta dan Kerajaan Demak, http:// warungbaca9.blogspot.com,
Senin 09 January 2012, Jam 20:00
Ahmad al-Usairy, 2003, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, Jakarta:
Akbar Media Eka Sarana
Habib Mustopo dkk, 2007, Sejarah
SMA Kelas XI, Jakarta : Yudhistira
H.J. De Graaf dan TH. Pigeaud, 2003, Kerajaan Islam Pertama di Jawa,
Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti
Ignaz Kingkin Teja Angkasa dkk, 2007, Sejarah untuk SMA/SMA kelas XI IPS,
Jakarta: Grasindo
I Wayan Badrika, 2006, Sejarah
untuk SMA kelas XI, Jakarta:Erlangga
Nana Supriatna, 2007, Sejarah untuk kelas XI SMA, Bandung : Grafindo Media Pratama
Ridwanaz, Sejarah Agama Islam Di Indonesia (Kerajaan Demak), http//ridwanaz.com,
Minggu 08 January 2012, jam 14:00
Syafi’i dan Sabil Huda, 1987, Sejarah dan Kebudayaan Islam untuk MTs kelas
3, Bandung: CV.
ARMICO
